Berkat membaca Bismillah

Ada seorang perempuan tua yang taat beragama, tetapi suaminya seorang yang fasik dan tidak mau mengerjakan kewajiban agama dan tidak mau berbuat kebaikan.
Perempuan itu senantiasa membaca Bismillah setiap kali hendak berbicara dan setiap kali dia hendak memulai sesuatu senantiasa didahului dengan Bismillah. Suaminya tidak suka dengan sikap isterinya dan senantiasa memperolok-olokkan isterinya.
Suaminya berkata sambil mengejek,”Asyik Bismillah, Bismillah. Sekejap-sekejap Bismillah.”

Isterinya tidak berkata apa-apa sebaliknya dia berdoa kepada Allah S.W.T. supaya memberikan hidayah kepada suaminya. Suatu hari suaminya berkata : “Suatu hari nanti akan aku membuat kamu kecewa dengan bacaan-bacaanmu itu.”
Untuk membuat sesuatu yang memeranjatkan isterinya, dia memberikan uang yang banyak kepada isterinya dengan berkata, “Simpan uang ini.” Isterinya mengambil uang itu dan menyimpan di tempat yang aman, di samping itu suaminya telah melihat tempat yang disimpan oleh isterinya. Kemudian dengan senyap-senyap suaminya itu mengambil uang tersebut dan mencampakkan uang itu ke dalam perigi di belakang rumahnya.

Setelah beberapa hari kemudian suaminya itu memanggil isterinya dan berkata, “Berikan padaku uang yang aku berikan kepada mu dahulu untuk disimpan.”
Kemudian isterinya pergi ke tempat dia menyimpan uang itu dan diikuti oleh suaminya dengan berhati-hati dia menghampiri tempat dia menyimpan uang itu dia membuka dengan membaca, “Bismillahirrahmanirrahiim

.” Ketika itu Allah S.W.T. mengutus malaikat Jibrail A.S. untuk mengembalikan semua uang dan menyerahkan uang itu kepada suaminya kembali.

Alangkah terperanjat suaminya, dia merasa bersalah dan mengaku segala perbuatannya kepada isterinya, ketika itu juga dia bertaubat dan mulai mengerjakan perintah Allah, dan dia juga membaca Bismillah apabila dia hendak memulai sesuatu pekerjaan.

sumber:http://www.abdullahakmal.co.cc/

Leave a comment »

Manusia yang Lebih Jahat dari Fir’aun dan Iblis

Suatu hari Iblis menemui Fir’aun.
Berkata kepada Fir’aun, “Apakah engkau mengenalku ? “.
Fir’aun menjawab, ” Ya ” .
” Engkau telah mengungguliku untuk satu perkara “, ujar Iblis.
” Untuk perkara apa ? “, tanya Fir’aun.
Iblis menjawab, ” Kelancanganmu terhadap Allah dengan mengaku dirimu sebagai Tuhan. Aku kan lebih tua, lebih banyak ilmu dan lebih kuat darimu, namun tidak berani mengatakan hal itu “.
Fir’aun berkilah, ” Ya, kau memang benar, namun aku akan bertobat ” .

” Tenang jangan kau lakukan itu “. sergah Iblis.
” Penduduk Mesir telah menganggapmu sebagai Tuhan. Jika kau tarik kembali pengakuanmu itu, tentu mereka akan lari darimu dan berpihak pada musuh-musuhmu. Mereka pasti akan merampas kerajaanmu sehingga kau menjadi sangat hina “.

Fir’aun berkata, ” Ah ya, kau benar. Tetapi tahukah engkau siapa yang lebih jahat daripada kita dimuka bumi ini ? “.
Iblis menjawab, ” Ya, orang yang dimintai maaf namun tidak memaafkan adalah orang yang lebih jahat daripada aku & kau ” .

sumber:komda-fast.web.id

Leave a comment »

sepotong roti penebus dosa

Abu Burdah bin Musa Al-asy’ari meriwayatkan, bahwa ketika menjelang wafatnya Abu Musa pernah berkata kepada puteranya: ” Wahai anakku, ingatlah kamu akan cerita tentang seseorang yang mempunyai sepotong roti.”
Dahulu kala di sebuah tempat ibadah ada seorang lelaki yang sangat tekun beribadah kepada Allah. Ibadah yang di lakukannya itu selama lebih kurang tujuh puluh tahun. Tempat ibadanya tidak pernah di tinggalkannya, kecuali pada hari-hari yang telah dia tentukan.
Akan tetapi pada suatu hari, dia di goda oleh seorang wanita sehingga dia pun tergoda dalam bujuk rayunya dan bergelimang di dalam dosa selama tujuh hari sebagaimana perkara yang di lakukan oleh pasangan suami-isteri.
Setelah ia sadar, maka ia lalu bertaubat, sedangkan tempat ibadahnya itu ditinggalkannya, kemudian ia melangkahkan kakinya pergi mengembara sambil disertai dengan mengerjakan shalat dan bersujud.

Akhirnya dalam pengembaraannya itu ia sampai ke sebuah pondok yang didalamnya sudah terdapat dua belas orang fakir miskin, sedangkan lelaki itu juga bermaksud untuk menumpang bermalam di sana, karena sudah sangat letih dari sebuah perjalanan yang sangat jauh, sehingga akhirnya dia tertidur bersama dengan lelaki fakir miskin dalam pondok itu.
Rupanya di samping kedai tersebut hidup seorang pendeta yang setiap malamnya selalu mengirimkan beberapa potong roti kepada fakir miskin yang menginap di pondok itu dengan masing-masingnya mendapat sepotong roti.

Pada waktu yang lain, datang pula orang lain yang membagi-bagikan roti kepada setiap fakir miskin yang berada di pondok tersebut, begitu juga dengan lelaki yang sedang bertaubat kepada Allah itu juga mendapat bagian, karena di sangka sebagai orang miskin.
Rupanya salah seorang di antara orang miskin itu tidak dapat bagian dari orang yang membagikan roti tersebut, sehingga kepada orang yang membagikan roti itu berkata: ” mengapa kamu tidak memberikan roti itu kepadaku.” Orang yang membagikan roti itu menjawab:” Kamu dapat melihat sendiri, roti yang aku bagikan semuanya telah habis, dan aku tidak membagikan kepada mereka lebih dari satu potong roti.” Mendengar ungkapan dari orang yang membagikan roti tersebut, maka lelaki yang sedang bertaubat itu lalu mengambil roti yang telah di berikan kepadanya dan memberikannya kepada orang yang tidak mendapatkan bagian tadi. Sedangkan keesokan harinya, orang yang bertaubat itu meninggal dunia.

Dihadapan Allah, maka di timbanglah amal ibadah yang pernah di lakukan oleh orang yang bertaubat itu selama lebih kurang tujuh puluh tahun dengan dosa yang di lakukannya selama tujuh malam. Ternyata hasil dari timbangan tersebut, amal ibadah yang di lakukan selama tujuh puluh tahun itu di kalahkan oleh kemaksiatan yang di lakukannya selama tujuh malam. Akan tetapi ketika dosa yang dilakukannya selama tujuh malam itu edi timbang dengan sepotong roti yang pernah diberikannya kepada fakir miskin yang sangat memerlukannya, ternyata amal sepotong roti tersebut dapat mengalahkan perbuatan dosanya selama tujuh malam itu. kepada anaknya Abu Musa berkata:” Wahai anakku, ingatlah olehmu akan orang yang memiliki sepotong roti itu!”

Semoga menjadi bermanfaat & menjadi motifasi untuk sahabat

dikutip dari;www.lailahaillallah.com/Silaturrahim in Reriligius, Education

Leave a comment »

ETIKA MAKAN DAN MINUM DALAM ISLAM

Rasulullah saw. bersabda, “Kami adalah kaum yang tidak makan kecuali kami lapar, dan jika kami makan maka kami tidak sampai kekenyangan.”

Etika Sebelum Makan

Etika sebelum makan adalah sebagai berikut :

1.  Makanan dan minumannya halal, bersih dari kotoran-kotoran haram, dan syubhat, karena Allah Ta’ala berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepada kalian.” (Al-Baqarah:172).

Yang dimaksud rizki yang baik ialah halal yang tidak ada kotoran di dalamnya.

2. Ia meniatkan makanan dan minumannya untuk menguatkan ibadahnya kepada Allah Ta‘ala, agar ia diberi pahala karena apa yang ia makan, dan ia minum. Sesuatu yang mubah jika diniatkan dengan baik, maka berubah statusnya menjadi ketaatan dan seorang Muslim diberi pahala karenanya.

3. Ia mencuci kedua tangannya sebelum makan jika keduanya kotor, atau ia tidak dapat memastikan kebersihan keduanya.

4. Ia meletakkan makanannya menyatu di atas tanah, dan tidak di atas meja makan, karena cara tersebut lebih dekat kepada sikap tawadlu’, dan karena ucapan Anas bin Malik ra, “Rasulullah saw. pernah makan di atas meja makan atau di piring.” (Diriwayatkan Al-Bukhari).

5. Ia duduk dengan tawadlu dengan duduk berlutut, atau duduk di atas kedua tumitnya, atau menegakkan kaki kanannya dan ia duduk di atas kaki kirinya, seperti duduknya Rasulullah saw., karena Rasulullah saw. bersabda,

“Aku tidak makan dalam keadaan bersandar, karena aku seorang budak yang makan seperti makannya budak, dan aku duduk seperti duduknya budak.” (Diriwayatkan Al-Bukhari).

6. Menerima makanan yang ada, dan tidak mencacatnya, jika ia tertarik kepadanya maka ia memakannya, dan jika ia tidak tertarik kepadanya maka ia tidak memakannya, karena Abu Hurairah ra berkata, “Rasulullah saw. tidak pernah sekali pun mencacat makanan, jika beliau tertarik kepadanya maka beliau memakannya, dan jika beliau tidak tertarik kepadanya maka beliau meninggalkannya.” (Diriwayatkan Abu Daud).

7. Ia makan bersama orang lain, misalnya dengan tamu, atau istri, atau anak, atau pembantu, karena Rasulullah saw. bersabda,

“Berkumpullah kalian di makanan kalian niscaya kalian diberi keberkahan di dalamnya.” (Diriwayatkan Abu Daud dan At-Tirmidzi yang men-shahih-kannya).

Etika ketika sedang Makan

Di antara etika sedang makan ialah sebagai berikut:

1.  Memulai makan dengan mengucapkan basmalah, karena Rasulullah saw. bersabda,

“Jika salah seorang dari kalian makan, maka sebutlah nama Allah Ta’ala. Jika ia lupa tidak menyebut nama Allah, maka hendaklah ia menyebut nama Allah Ta‘ala pada awalnya dan hendaklah ia berkata, Dengan nama Allah, sejak awal hingga akhir.” (Diriwayatkan Abu Daud dan At-Tirmidzi yang men-shahih-kannya).

2.  Mengakhiri makan dengan memuji Allah Ta‘ala, karena Rasulullah saw. bersabda,

“Barangsiapa makan makanan, dan berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang memberi makanan ini kepadaku, dan memberikannya kepadaku tanpa ada daya dan upaya dariku’, maka dosa-dosa masa lalunya diampuni.” (Muttafaq Alaih).

3. Ia makan dengan tiga jari tangan kanannya, mengecilkan suapan, mengunyah makanan dengan baik, makan dari makanan yang dekat dengannya (pinggir) dan tidak makan dari tengah piring, karena dalil-dalil berikut

Rasulullah saw. bersabda kepada Umar bin Salamah,

“Hai anak muda, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari makanan yang dekat denganmu (pinggir).” (Muttafaq Alaih).

“Keberkahan itu turun di tengah makanan. Maka oleh karena itu, makanlah dari pinggir-pinggirnya, dan janqan makan dari tengahnya.” (Muttafaq Alaih).

4. Mengunyah makanan dengan baik, menjilat piring makanannya sebelum mengelapnya dengan kain, atau mencucinya dengan air, karena dalil-dalil berikut:

Rasulullah saw. bersabda,

“Jika salah seorang dari kalian makan makanan, maka ia jangan membersihkan jari-jarinya sebelum ia menjilatnya.” (Diriwayatkan Abu Daud dan At-Tirmidzi yang men-shahih-kannya).

Ucapan Jabir bin Abdullah ra bahwa Rasulullah saw. memerintahkan menjilat jari-jari dan piring. Beliau bersabda,

“Sesungguhnya kalian tidak mengetahui di makanan kalian yang mana keberkahan itu berada.” (Diriwayatkan Muslim).

5. Jika ada makanannya yang jatuh, ia mengambil dan memakannya, karena Rasulullah saw. bersabda,

“Jika sesuap makanan kalian jatuh, hendaklah ia mengambilnya, membuang kotoran daripadanya, kemudian memakan sesuap makanan tersebut, serta tidak membiarkannya dimakan syetan.” (Diriwayatkan Muslim).

6. Tidak meniup makanan yang masih panas, memakannya ketika telah dingin, tidak bernafas di air ketika minum, dan bernafas di luar air hingga tiga kali, karena dalil-dalil berikut:

Hadits Anas bin Malik ra berkata, “Rasulullah saw. bernafas di luar tempat minum hingga tiga kali.” (Muttafaq Alaih).

Hadits Abu Said Al-Khudri ra, bahwa Rasulullah saw. melarang bernafas di minuman. (Diriwayatkan At-Tirmidzi yang men-shahih-kannya).

Hadits lbnu Abbas ra bahwa Rasulullah saw. melarang bernafas di dalam minuman, atau meniup di dalamnya. (Diriwayatkan At-Tirmidzi yang men-shahih-kannya).

7. Menghindari kenyang yang berlebih-lebihan, karena Rasulullah saw., bersabda,

“Anak Adam tidak mengisi tempat yang lebih buruk daripada perutnya. Anak Adam itu sudah cukup dengan beberapa suap yang menguatkan tulang punggungnya. Jika ia tidak mau (tidak cukup), maka dengan seperti makanan, dan dengan seperti minuman, dan sepertiga yang lain untuk dirinya.” (Diriwayatkan Ahmad, Ibnu Majah, dan Al-Hakim. Hadits ini hasan).

8. Memberikan makanan atau minuman kepada orang yang paling tua, kemudian memutarnya kepada orang-orang yang berada di sebelah kanannya dan seterusnya, dan ia menjadi orang yang terakhir kali mendapatkan jatah minuman, karena dalil-dalil berikut:

Sabda Rasulullah saw.,

“Mulai dengan orang tua. Mulailah dengan orang tua.”

Maksudnya, mulailah dengan orang-orang tua.

Rasulullah saw. meminta izin kepada Ibnu Abbas untuk memberi makanan kepada orang-orang tua di sebelah kiri beliau, sebab Ibnu Abbas berada di sebelah kanan beliau, sedang orang-orang tua berada di sebelah kiri beliau. Permintaan izin Rasulullah saw. kepada Ibnu Abbas untuk memberikan makanan kepada orang-orang tua di sebelah kiri beliau itu menunjukkan bahwa orang yang paling berhak terhadap minuman ialah orang yang duduk di sebelah kanan.

Sabda Rasulullah saw.,

“Sebelah kanan, kemudian sebelah kanan.” (Muttafaq Alaib).

“Pemberi minuman ialah orang yang paling akhir meminum.”

9.  Ia tidak memulai makan, atau minum, sedang di ruang pertemuannya terdapat orang yang lebih berhak memulainya, karena usia atau karena kelebihan kedudukannya, karena hal tersebut melanggar etika, dan menyebabkan pelakunya dicap rakus. Salah seorang penyair berkata,

Jika tangan-tangan dijulurkan kepada perbekalan,

Maka aku tidak buru-buru mendahului mereka,

sebab orang yang paling rakus ialah

orang yang paling buru-buru terhadap makanan.

10. Tidak memaksa teman atau tamunya dengan berkata kepadanya, ‘silakan makan’, namun ia harus makan dengan etis (santun) sesuai dengan kebutuhannya tanpa merasa malu-malu, atau memaksa diri malu-malu, sebab hal tersebut menyusahkan teman atau tamunya, dan termasuk riya’, padahal riya’ itu diharamkan.

11. Ramah terhadap temannya ketika makan bersama dengan tidak makan lebih banyak dari porsi temannya, apalagi jika makanan tidak banyak, karena makan banyak dalam kondisi seperti itu termasuk memakan hak (jatah) orang lain.

12. Tidak melihat teman-temannya ketika sedang makan, dan tidak melirik mereka, karena itu bisa membuat malu kepadanya. Ia harus menahan pandangannya terhadap wanita yang makan di sekitarnya, dan tidak mencuri-curi pandangan terhadap mereka, karena hal tersebut menyakiti mereka membuat mereka marah dan ia pun mendapat dosa karena perbuatannya tersebut.

13. Tidak mengerjakan perbuatan-perbuatan yang dipandang tidak sopan oleh masyarakat setempat. Misalnya, ia tidak boleh mengibaskan tangannya di piring, tidak mendekatkan kepalanya ke piring ketika makan agar tidak ada sesuatu yang jatuh dari kepalanya ke piringnya, ketika mengambil roti dengan giginya ia tidak boleh mencelupkan sisanya di dalam piring, dan tidak boleh berkata jorok, sebab hal ini mengganggu salah satu temannya, dan mengganggu seorang Muslim itu haram hukumnya.

14. Jika ia makan bersama orang-orang miskin, ia harus mendahulukan orang miskin tersebut. Jika ia makan bersama saudara-saudaranya, ia tidak ada salahnya bercanda dengan mereka dalam batas-batas yang diperbolehkan. Jika ia makan bersama orang yang berkedudukan, maka ia harus santun, dan hormat terhadap mereka.

Etika Setelah Makan

Di antara etika setelah makan ialah sebagai berikut:

1. Ia berhenti makan sebelum kenyang, karena meniru Rasulullah saw. agar ia tidak jatuh dalam kebinasaan, dan kegemukan yang menghilangkan kecerdasannya.

2. Ia menjilat tangannya, kemudian mengelapnya, atau mencucinya. Namun mencucinya lebih baik.

3. Ia mengambil makanan yang jatuh ketika ia makan, karena ada anjuran terhadap hal tersebut, dan karena itu adalah bagian dari syukur atas nikmat.

4. Membersihkan sisa-sisa makanan di gigi-giginya, dan berkumur untuk membersihkan mulutnya, karena dengan mulutnya itulah ia berdzikir kepada Allah Ta‘ala, berbicara dengan saudara-saudaranya, dan karena kebersihan mulut itu memperpanjang kesehatan gigi.

5. Memuji Allah Ta‘ala setelab ia makan, dan minum. Ketika ia minum susu, ia berkata, “Ya Allah, berkahilah apa yang Engkau berikan kepada kami, dan tambahilah rizki-Mu (kepada kami)”. Jika berbuka puasa di tempat orang, ia berkata, “Orang-orang yang mengerjakan puasa berbuka puasa di tempat kalian, orang-orang yang baik memakan makanan kalian, dan semoga para malaikat mendoakan kalian.

sumber: http://www.alislamu.com

Leave a comment »

Nama Bulan dalam Kalender Hijriyah

“Mereka bertanya kepada engkau tentang hilal. Katakanlah hilal itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (tanda pelaksanaan) haji” (Al-Baqarah : 189)

Segala puji bagi Alloh yang hanya kepadaNya kita brtasbih, dan hanya kepadaNya pula kita memohon ampun dan berlindung dari segala dosa, kesalahan, dan dari jeleknya amal-amal kita. Sungguh barangsiapa yang Alloh beri petunjuk maka tak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang Alloh biarkan tersesat, maka siapa lagi yang dapat memberinya petunjuk

Telah diilmui oleh sebahagian kaum muslimin bahwasanya Almuharrom adalah bulan termulia setelah Ramadhon. Ia adalah Syahrulloh, Bulan yang dinisbatkan Rasululloh sebagai bulan Alloh. Penisbatan ini tentu mengandung makna yang besar sehingga sepatutnyalah kita menggali lebih dalam fadhilah yang ada didalamnya. Satu fadhilah yang disunnahkan Rasululloh dan telah diketahui umumnya muslimin adalah shaum pada hari tasu’a dan asyura (hari ke-9 dan ke-10) dimana keutamaannya adalah penghapusan dosa setahun yang lalu, dan meski kaum yahudi pun berpuasa asyura sebagai syukur mereka sebab dihari itu Nabi Musa dan bani israil diselamatkan Alloh dan fir’aun beserta kaumnya ditenggelamkan, tapi sesungguhnya kita kaum muslimin yang lebih berhak untuk berpuasa atas itu. Maka berpuasalah dan selisihi mereka dengan berpuasa pula pada tanggal 9 nya.

sesungguhnya bulan disisi Alloh itu adalah 12 bulan sejak Langit dan Bumi diciptakan sebagaimana firmanNya :

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Alloh adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Alloh di waktu Dia menciptakan langit dan bumi (At-Taubah : 36)

Dan 12 bulan tersebut adalah bulan yang sesuai dengan kalender Hijriyah. Inilah penanggalan yang sesuai dengan syariat dan sesuai dengan fitrah zamaan karena menilik pada hilal/bulan sabit. Penanggalan ini menjadi resmi sebagai kalender Islam sejak di putuskan Umar Ibn Khattab dalam syuro bersama para sahabat pada tahun keempat masa kekhalifahanya. Tapi sangat disayangkan, sedikit sekali dari generasi Islam zaman ini yang menghapal penanggalan tersebut, sebaliknya mereka begitu hapal dengan kalender masehi yang notabene penanggalan As-Syams (matahari) dan bukan dari Islam (nama2 bulan masehi tak pernah disebutkan baik dlm AlQuran, Sunnah, Maupun Ijma, termasuk juga penetapan bulan secara AsSyams versi  kabisat tidak dikenal dlm Islam). adapun penanda waktu berdasar matahari memang ada disebutkan dalam AlQuran dan tetap dipakai dalam Islam, tapi berlaku sebagai penanda harian seperti waktu sahur berbuka dan sholat.

Bila dinamakan dan disusun menurut dalil yang sohih maka ke12 bulan tersebut adalah sebagai berikut :

___________________________________________________________________________

1. Almuharrom

(bulan pertama dalam kalender hijriyah. Sebagian muslimin menyebutnya Muharram. Padahal sebutan yang paling tepat sebagaimana Rasululloh menyebutnya adalah Almuharrom. Yakni ada kata “Al” didepannya dan ini telah dibahas ulama. Nama ini secara lughot/bahasa bermakna “yang diharamkan”. Dan secara istilah maksudnya “diharamkannya menumpahkan darah dan berperang”. Pengharaman perang ini sendiri dihapuskan karena berlaku dahulu di awal perjuangan Islam. Lihat Al-Baqarah : 194)

___________________________________________________________________________

2. Shafar

(bulan kedua dalam Hijriyah. Secara lughot artinya “kuning atau kosong”. Secara istilah adalah bulan dimana para lelaki arab pergi merantau dan sibuk dengan aktivitas perniagaan dan perang)

___________________________________________________________________________

3. Rabi’ul Awwal

(berasal dari kata Rabi’ secara lughot artinya “menetap”. Secara istilah disebut Rabi’ karena urf orang arab adalah mereka kembali dari perantauan pada bulan ini. Dibulan ini pula sebenarnya Rasululloh melakukan hijrah dan bukan di bulan Almuharrom. Lalu mengapa penanggalan dimulai di bulan Almuharrom? Jawabnya; karena para sahabat mngetahui bahwa niat Rasululloh untuk hijrah telah ada sejak Almuharrom dan urusan umat Islam terkait manasik haji selesai di Almuharrom maka Almuharrom dianggap bulan permulaan dalam banyak perkara)

___________________________________________________________________________

4. Rabi’ul Akhir

(disebut juga Rabi’ul At-Tsaaniyah. Secara urf dibulan ini para lelaki arab menetap untuk terakhir kalinya untuk kemudian melakukan perantauan kembali)

___________________________________________________________________________

5. Jumaadal Ulaa

(berasal dari kata “jumaad” yang artinya “kering” dan Ulaa artinya pertama. Dinamakan demikian karena di bulan ini biasanya awal musim kemarau)

___________________________________________________________________________

6. Jumaadal At-Tsaaniyah

(dinamakan demikian karena biasanya penghabisan musim kemarau)

___________________________________________________________________________

7. Rojab

(berarti “mulia”. Orang arab menamakan demikian karena pada masa jahiliyah dulu dibulan ini dilakukan adat-adat pemuliaan seperti qurban, far’a, dan atirah. Lalu Islam datang dan menghapusnya maka dibulan ini biasanya dilakukan ziarah ke baitul haram dalam keadaan aman. nama lain bulan ini adalah Syahru Mudhor)

___________________________________________________________________________

8. Sya’ban

(artinya “berkelompok-kelompok” yakni dibulan ini para lelaki terserak-serak dengan bermacam-macam urusan. ada yang mencari air, ada yang berniaga, ada yang pergi kelembah-lembah, dsb)

___________________________________________________________________________

9. Ramadhon

(artinya “terbakar”. Dinamakan demikian karena matahari dibulan ini begitu terik. Ramadhon adalah satu-satunya bulan yang disebut secara tersurat dalam Al-Quran. Sebutan lain yang rajih adalah Syahrus Shiyaam dan Syahrul Quraan)

___________________________________________________________________________

10. Syawal

( artinya “meningkat” atau “keatas”. Dinamakan demikian karena orang arab umumnya meningkat girohnya dibulan ini setelah bulan sebelumnya diuji dengan hari-hari yang terik. Mereka menampakkan kegembiraan dan semangat hidup yang berapi-api dan saling berlomba-lomba dibulan ini)

___________________________________________________________________________

11. Dzulqa’dah

(berasal dari dua kata yakni “dzul = pemilik” dan “qa’dah = tempat duduk”. Dinamakan demikian karena pada hari-hari dibulan ini kebanyakan orang-orang arab beristirahat dari aktivitas yang melelahkan dibulan lalu)

___________________________________________________________________________

12. Dzulhijjah

(artinya pemilik haji. Dinamakan demikian karena manusia meyakini bahwa umat para Nabi sejak Nabi Adam melaksanakan ibadah haji pada bulan ini.)

___________________________________________________________________________

Diantara 12 bulan tersebut telah ditetapkan 4 bulan sebagai bulan kehormatan dan pengharaman untuk membuat kekacauan/perang/menumpahkan darah dan kezaliman yang kejelekannya amat berat dibanding jika dilakukan di bulan lainnya. 4 bulan tersebut yakni : Almuharrom , Rojab , Dzulqa’dah, Dzulhijjah

Demikian, dan sebagai penutup mari renungkan kembali Firman Alloh (At-Taubah : 36)

Sesungguhnya bilangan BULAN pada sisi Allah adalah DUA BELAS BULAN, dalam ketetapan Alloh di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya EMPAT BULAN HARAM. Itulah AGAMA YANG LURUS, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.

sumber: memen.wordpress.com

Leave a comment »

kisah islami : catatan Astaghfirullahhal Azhiim

>>> KISAH YG MEMBUATq MALU MUNGKIN ANDA JUGA

Suatu hari seorang anak sedang belajar di sekolahnya, dia baru kelas 3 SD. Di salah satu pelajaran, seorang guru menjelaskan tentang shalat subuh dan dia menyimaknya dengan seksama. Mulailah gurunya berbicara tentang keutamaan dan pentingnya shalat subuh dengan cara yang menggugah, tersentuhlah anak didiknya yang masih kecil itu.Terpengaruhlah seorang anak kecil tadi oleh perkataan gurunya sementara ini dia belum pernah shalat subuh sebelumnya dan juga keluarganya. Ketika dia pulang ke rumah, berfikirlah dia bagaimana caranya supaya bisa bangun untuk shalat subuh besoknya. Dia tidak mendapatkan caranya selain tidak tidur semalaman sampai bisa melaksanakan shalat subuh. Dia melakukan caranya itu. Dan ketika mendengar azan, bergegaslah dia untuk menjalankan shalat subuh. Tetapi ada masalah bagi anak kecil ini untuk sampai ke masjid karena letaknya jauh dari rumahnya. Dia tidak bisa berangkat sendirian, maka menangislah dia dan duduk di depan pintu. Tetapi tiba-tiba dia mendengar suara sepatu seseorang dari arah jalan, dibukalah pintu dan keluarlah segera dari rumahnya. Nampaknya kakek ini menuju masjid. Anak kecil ini melihat sang kakek dan dia kenal.Kakek ini adalah kakek temannya, Ahmad. Anak kecil ini mengikuti Kakek Ahmad di belakangnya dengan rasa khawatir dan perlahan-lahan dalam berjalan, jangan sampai Si kakek merasa diikuti dan melaporkan dia kekeluarganya dan yang kemungkinan akan menghukumnya. Berjalanlah peristiwa ini seterusnya sampai pada suatu ketika Si kakek dipanggil oleh Allah Pemilik jiwa dan raganya. Sikakek wafat.Anak kecil mendengar kabar ini,tertegunlah dia dan menangis sejadi-jadinya. Ayahnya sangat heran melihat kondisi seperti ini, kemudian bertanyalah kepada anaknya,“ wahai anakku kenapa kamu menangis sampai seperti ini, dia itu bukan teman bermainmu dan bukan pula saudaramu yang hilang ?” Anak kecil itu melihat kearah ayahnya dengan berlinang air mata penuh kesedihan, dan berkata kepada ayahnya, “seandainya yang meninggal itu ayah, bukan dia.” Bagai disambar petir dan tercenganglah seorang ayah kenapa anaknya yang berkata dengan ungkapan seperti itu, dan kenapa begitu cintanya anaknya kepada sikakek? Anak kecil menjawab dengan suara parau, “Aku tidak kehilangan dia karena hal-hal yang ayah sebutkan. ” Bertambah heran ayahnya itu dan bertanya, “lalu karena apa?” Anak itu menjawab, “karena shalat ayah….karena shalat!” Kemudian anak itu menambahkan pembicaraannya, “ Ayah, kenapa ayah tidak shalat subuh? Kenapa ayah tidak seperti si kakek dan seperti orang lain yang aku lihat ?” Berkata ayahnya, “dimana kamu melihatnya?” Anak kecil itu menjawab, “di masjid.” Berkata lagi ayahnya, “bagaimana kisahnya?” Maka berceritalah anak kecil itu kepada ayahnya tentang apayang dilakukan selama ini.Tersentuhlah seorang ayah oleh anaknya, lembutlah hati dan tubuhnya, jatuhlah air matanya,dipeluklah anaknya, dan semenjak peristiwa itu, ayah anak itu tidak pernah meninggalkan shalat satu waktupun dan semuanya dilakukan dimasjid. (athfal lakin du ’ah)

>>>> Sebuah Kisah MENGHARUKAN untuk kita renungkan dan jadikan motivasi.

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku.

Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu ditangannya. “Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!”
Dia mengangkat tongkat bambu itu tinggi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!”

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus-menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas.

Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal
memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!” Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus.
Saya mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik… hasil yang begitu baik…” Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?” Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku. ” Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!” Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.”

Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimimu uang.” Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20. Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai
ke tahun ketiga (di universitas).

Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana! “Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?” Dia menjawab, tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?” Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga!

Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…” Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.” Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. “Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!”

Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..”
Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan
sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. “Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya. “Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…” Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku.

Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.
Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.” Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut.

Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi. Suatu hari, adikku di atas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar–ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?” Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah, “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”
“Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29. Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, “Kakakku.”

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. “Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sendoknya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, “Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.” Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

Bisakah kita memiliki jiwa besar seperti si adik yang seperti dalam cerita, … tapi bagaimanapun, yang namanya Saudara patut kita jaga dan kita hormati, apakah itu seorang adik atau seorang kakak. Karena apa arti hidup kalau tidak bisa membahagiakan sodara dan keluarga kita

>>>> sebuah cerita, Berapa lama Kita dikubur?

Awan sedikit mendung, ketika kaki kaki kecil Yani
berlari-lari gembira di atas jalanan menyeberangi kawasan
lampu merah Karet.

Baju merahnya yg besar melambai-lambai di tiup angin.
Tangan kanannya memegang ice-krim sambil sesekali
mengangkatnya ke mulutnya untuk dicicapi, sementara tangan
kirinya mencengkam Ikatan sabuk celana ayahnya.

Yani dan Ayahnya memasuki wilayah pemakaman umum Karet,
berputar sejenak ke kanan & kemudian duduk Di atas
tembok nisan “Hj Rajawali binti Muhammad 19-10-1915:
20- 01-1965”

“Nak, ini kubur nenekmu mari Kita berdo’a untuk
nenekmu” Yani melihat wajah ayahnya, lalu meniru gaya
tangan ayahnya yg mengangkat ke atas dan ikut memejamkan
mata seperti ayahnya. Ia mendengarkan ayahnya berdo’a
untuk Neneknya…

“Ayah, nenek waktu meninggal umur 50 tahun ya
Yah.” Ayahnya mengangguk sambil tersenyum, sambil
memandang pusara Ibu-nya.

“Hmm, bererti nenek sudah meninggal 42 tahun ya
Yah…” Kata Yani berlagak sambil matanya mengira dan
jarinya berhitung. “Ya, nenekmu sudah di dalam kubur 42
tahun … ”

Yani menoleh kepalanya, memandang sekeliling, banyak
kuburan di sana . Di samping kuburan neneknya ada kuburan
tua berlumut “Muhammad Zaini: 19-02-1882 :
30-01-1910”

“Hmm.. Kalau yang itu sudah meninggal 106 tahun yang
lalu ya Yah”, jarinya menunjuk nisan bersebelahan kubur
neneknya. Sekali lagi ayahnya mengangguk. Tangannya
terangkat mengusap kepala anak satu-satunya. “Memangnya
kenapa ndhuk( anak perempuan) ?” kata sang ayah menatap
teduh mata anaknya. “Hmmm, ayah kan semalam bilang,
bahwa kalau kita mati, lalu di kubur dan kita banyak
dosanya, kita akan disiksa dineraka” kata Yani sambil
meminta persetujuan ayahnya. “Iya kan yah?”

Ayahnya tersenyum, “Lalu?”
“Iya .. Kalau nenek banyak dosanya, berarti nenek
sudah disiksa 42 tahun dong yah di kubur? Kalau nenek banyak
pahalanya, berarti sudah 42 tahun nenek senang dikubur ….
Ya nggak yah?” mata Yani bersinar keranana bisa
menjelaskan kepada Ayahnya pendapatnya.

Ayahnya tersenyum, namun sekilas tampak keningnya berkerut,
tampaknya cemas …… “Iya nak, kamu pintar,”
kata ayahnya pendek.

Pulang dari pemakaman, ayah Yani tampak gelisah Di atas
sajadahnya, memikirkan apa yang dikatakan anaknya… 42
tahun hingga sekarang… kalau kiamat datang 100 tahun
lagi…142 tahun disiksa .. atau bahagia dikubur …. Lalu
Ia menunduk … Meneteskan air mata…

Kalau Ia meninggal .. Lalu banyak dosanya …lalu kiamat
masih 1000 tahun lagi berarti Ia akan disiksa 1000 tahun?
’Innalillaahi WA inna ilaihi rooji’un’
…. Air matanya semakin banyak menetes, sanggupkah ia
selama itu disiksa? Iya kalau kiamat 1000 tahun ke depan,
kalau 2000 tahun lagi? Kalau 3000 tahun lagi? Selama itu ia
akan disiksa di kubur. Lalu setelah dikubur? Bukankah Akan
lebih parah lagi?
Tahankah? padahal melihat adegan pameran dipukuli masa di
tv kemarin ia dah tak tahan?

Ya Allah… Ia semakin menunduk, tangannya mengangkat,
setinggi bahunya naik turun tak teratur…. air matanya
semakin membanjiri pipi dan janggutnya…

Allahumma as aluka khusnul khootimahâ..
berulang Kali di bacanya DOA itu hingga suaranya serak …
Dan ia berhenti sejenak ketika terdengar batuk Yani.

Dihampirinya Yani yang tertidur di atas dipan Bambu. Di
betulkannya selimutnya. Yani terus tertidur…. tanpa tahu,
betapa sang bapak sangat berterima kasih padanya karena
telah menyadarkannya arti sebuah kehidupan… Dan apa yang
akan datang di depannya…

“Yaa Allah, letakkanlah dunia ditanganku, jangan Kau
letakkan dihatiku…”

DARI BANGKU KOSONG

Leave a comment »

MULIA DAN HEBATNYA WANITA

Ramai yang tidak tahu bahwa ada
beberapa pekara yang telah terkait
dalam hadis yang mengisahkan
perbedaan darajat kaum wanita dan
lelaki. Perbedaan-perbedaan ini yang
menaikan darajat kaum wanita. Ciri-
ciri tersebut diuraikan di bawah ini :-
1. Doa perempuan lebih makbul
daripada lelaki kerana sifat
penyayang yang lebih kuat daripada
lelaki. Ketika ditanya kepada
Rasulullah akan hal tersebut, jawab
baginda, “Ibu lebih penyayang
daripada bapa dan doa orang yang
penyayang tidak akan sia-sia”.
2. Apabila seseorang perempuan
mengandung janin dlm
rahimnya,maka beristighfarlah para
malaikat untuknya. Allah
mencatatkan baginya setiap hari dgn
1,000 kebajikan dan menghapuskan
darinya 1,000 kejahatan.
3. Apabila seseorang perempuan mula
sakit hendak bersalin,maka Allah
mencatatkan baginya pahala orang
yang berjihad pada jalan Allah.
4. Apabila seseorang perempuan
melahirkan anak,keluarlah dia dari
dosa-dosa seperti keadaan ibunya
melahirkanya.
5. Apabila telah lahir anak lalu disusui,
maka bagi ibu itu setiap satu tegukan
daripada susunya diberi satu
kebajikan.
6. Apabila semalaman ibu tidak tidur
dan memelihara anaknya yang sakit,
maka Allah memberinya pahala
seperti memerdekakan 70 hamba
dengan ikhlas untuk membela agama
Allah.
7. Barangsiapa yang mengembirakan
akan perempuannya, darajatnya
seumpama orang yang sentiasa
menangis kerana takutkan Allah dan
orang yang takutkan Allah akan
diharamkan api neraka keatas
tubuhnya.
8. Barangsiapa membawa hadiah,
(barang makan dari pasar ke
rumah)lalu diberikan kepada
keluarganya, maka pahalanya seperti
bersedekah. Hendaklah
mendahulukan anak perempuan
daripada anak lelaki. Maka
barangsiapa yang menyukakan anak
perempuan seolah-olah dia
memerdekakan anak Nabi Ismail.
9. Tiap perempuan yang menolong
suaminya dalam urusan agama,maka
Allah memasukkan dia ke dalam
syurga lebih dahulu daripada
suaminya (10,000 tahun)
10. Perempuan apabila sembahyang
lima waktu, puasa bulan
Ramadhan,memelihara
kehormatannya serta taat akan
suaminya, masuklah dia dari pintu
syurga mana sahaja yang
dikehendaki.
11.Wanita yang solehah (baik) itu
lebih baik daripada 1,000 lelaki yang
soleh.
12.Aisyah berkata, “Aku bertanya
kepada Rasulullah, siapakah yang
lebih besar haknya terhadap
wanita?? Jawab
Rasulullah,”Suaminya.” “Siapa pula
berhak terhadap lelaki?” Jawab
Rasulullah, “Ibunya”.
13.Apabila memanggil akan engkau
dua orang ibubapamu, maka
jawablah panggilan ibumu dahulu.
14.Wanita yang taat akan suaminya,
ikan-ikan di laut, burung di udara,
malaikat di langit, matahari dan bulan
semua beristighfar baginya selama
mana dia taat kepada suaminya serta
menjaga sembahyang dan puasanya.
15. Wanita yang taat berkhidmat
kepada suaminya akan tertutup
pintu-pintu neraka dan terbuka
pintu-pintu syurga. Masuklah dari
mana? mana pintu yang di kehendaki
dengan tidak dihisab.
16. Syurga itu dibawah tapak kaki
ibu.
17. Wanita yang tinggal bersama
anak-anaknya akan tinggal bersama
aku (Nabi s.a.w) di dalam syurga.
18. Barangsiapa mempunyai tiga anak
perempuan atau tiga saudara
perempuan atau dua anak
perempuan atau dua saudara
perempuan lalu dia bersikap ihsan
dalam pergaulan dengan mereka dan
mendidik mereka dengan penuh rasa
takwa serta bertanggungjawab,
maka baginya syurga.
19. Daripada Aisyah r.a. Barangsiapa
yang diuji dengan sesuatu daripada
anak-anak perempuannya, lalu
berbuat baik kepada mereka, maka
mereka akan menjadi penghalang
baginya daripada api neraka.
Jadi, janganlah sesekali kita merasa
lemah. wanita sebenarnya yang
membuat seseorang lelaki itu kuat.
Itulah salah satu sebab mengapa
Nabi meletakan wanita setaraf pada
lelaki dan tidak lebih rendah

Leave a comment »

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.